Semangat MATAHARI
Bulan sepuluh adalah puncak
panasnya matahari di pulau yang disebut Nusa Lontar ini. Bukan hanya teriknya
yang bisa membuat kepala sakit namun juga air di sumur yang semakin kering.
Jadi sumur depan rumah semakin hari airnya menyusut kering, bahkan tali untuk
menarik dirigen air sudah tidak cukup menggapai sampai bawah. Bersiaplah saya
membawa kereta (begitu orang Rote menyebutnya) kalau kita di jawa menamainya
gerobak. Berjalan kurang lebih sejauh 1 km untuk mengangkut air di dusun lain. Namun
ini pasti akan menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Matahari ternyata tidak sejahat
yang mungkin saya pikirkan. Ya, karena panasnya bisa menghitamkan kulit,
membuat kepala sakit karena begitu terik, tidak bisa tidur lelap karena begitu
panas bahkan membuat air sumur menjadi kering. Tetapi matahari sesungguhnya
punya energi yang begitu positif. Matahari seakan membuat saya menjadi lebih
bersemangat.
Matahari tidak akan kemana-mana
kalau bulan atau bintang belum muncul. Matahari selalu memberi energi baru
setiap harinya, kehangatan dan tentunya cahaya untuk alam semesta. Apa jadinya
kalau tidak ada matahari? Setiap hari kita pasti sudah hidup dalam gelap.
Namun sering saya memarahinya,
kalau matahari bersinar terlalu terik, malah diprotes kalau-kalau tampak sayu
dan terkesan bermalas-malasan. Namun dengan cacian, protes tidak pernah
sekalipun matahari mempedulikannya. Tetap saja ia bersinar ketika fajar mulai menjemputnya.
Matahari juga mengajarkan
bagaimana saya untuk selalu bisa berbagi. Matahari tidak selalu bersinar seharian,
ia akan berbagi dengan bulan dan bintang. Tetapi ketika ia harus lenyap karena
senja memanggilnya, ia masih tetap bisa bersinar, dibelahan bumi yang lain.
Kehadiran saya tentunya
diharapkan menjadi sumber energi, terutama bagi anak-anak Negeri di Selatan
Indonesia. Tetapi kemudian untuk menciptakan sumber energi dibutuhkan faktor
pendukung. Kalau begitu sama dengan matahari. Ia hadir bukan dengan sendirinya.
Matahari diciptakan dari reaksi fusi hidrogen menjadi helium. Barulah ia bisa
menghasilkan energi yang sangat besar yang mampu menyembur hingga ribuan
kilometer. Matahari walaupun ketika ia sedang tidak tampak di bumi tetapi tidak
pernah berhenti menabur energinya.
Segala macam tantangan, tekanan
yang dirasakan disini. Seharusnya tidak membuat saya berhenti sebelum finish, tetapi terus berlari. Berlari
dengan tetap memberi dan menabur energi, yang mana sudah siap di ujung sana
mereka dengan tangan terbuka dan sukaria menyambutnya. Sama seperti matahari
yang selalu dinanti datang untuk menerangi bumi dan memberi energinya.
Aku menyebutnya semangat
Matahari.

Komentar
Posting Komentar