Air Mata di Kelas 4
Hari senin adalah jadwalku mengajar di kelas 4 mata pelajaran
Bahasa Inggris. Aku dapat jam pelajaran terakhir, 10.55 – 12.15. Aku mulai
dengan memberikan semacam tes kecil, dengan tujuan untuk mengingat kembali
materi sebelumnya, 10 menit saja kuberikan waktu. Lalu aku akan menyampaikan materi
mengenai macam-macam warna. Tentunya aku kenalkan mereka dengan 4 macam warna
dasar terlebih dahulu; merah, kuning, biru dan hijau.
Metode yang kuberikan melalui permainan. Aku namai
permainannya Mencari Harta Karun. Mereka
aku bagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok diberikan 1 kertas. Nah,
didalam kertas tersebut berisi sebuah petunjuk. Tugas mereka mencari “harta
karun” berdasarkan petunjuk yang ada di kertas. Benda yang dicari yang akan
mewakili sebuah warna (Daun-Hijau, Dasi-Merah, dst)
Begitu semangatnya aku memulai permainan, begitu juga
anak-anak. Setelah kelompok sudah
mendapatkan kertas petunjuk, tanpa boleh diketahui kelompok lain mereka mencari
dan menyimpannya ketika sudah ditemukan. Namun yang terjadi, baru mulai aku
memberikan instruksi permainan, kelas begitu ribut. Beberapa siswa protes ada
juga yang saling mengejek, karena kelompok yang mereka dapat tidak sesuai
dengan keinginan.
Pertama aku mengingatkan mereka untuk diam dengan cara yang
halus, tidak berhasil. Lalu aku diam sambil memandang satu persatu dan
membiarkan mereka terus berbicara, berharap mereka sadar kalau aku sedang
marah. Beberapa siswa memang menyadarinya,
saling teriak mengingatkan “hei
badiam sudah, Ibu Anggun su marah”, tetapi begitu banyak yang menyampaikan
kalimat itu kelas malah ribut lagi. Aku hampir kehabisan akal, bagaimana menyuruh
mereka untuk tertib. Dari cara halus, tidak bisa, aku diam juga malah makin
ribut. Sampai-sampai aku harus menggeprak meja dan papan tulis. Ketika kelas
mulai lebih tenang akupun mulai bicara.
Kataku, “Ibu Anggun
hanya minta kalian tertib, tidak lama hanya satu jam. Bergantian apabila ingin
berbicara. Ibu tidak suka marah, tetapi kalau kalian selalu seperti ini, bagaimana
Ibu tidak marah. Hanya 1 jam dalam 1 minggu, ibu minta kalian tertib. Ibu
Anggun juga tidak lama mengajar kalian toh, hanya 1 tahun, bahkan sekarang
sudah 2 bulan jadi Ibu punya waktu sisa 10 bulan lagi disini”. Siapa sangka
saat terucap “Ibu hanya 1 tahun mengajar
kalian disini” aku seperti terjebak dengan ucapanku sendiri. Seketika juga aku tidak mampu menahan jatuhnya air mata, aku
menangis. Aku menyadari keberadaanku dengan mereka yang ternyata terlalu
singkat, 1 tahun, ya 365 hari bahkan kurang. Begitu aku mengucapkannya bersamaan
aku merenung, jangan sampai aku belum melakukan apa-apa untuk mereka, jangan
sampai mereka, murid-muridku tidak mendapatkan kesempatan selayaknya seorang
murid sekolah dasar.
Menangis bukan karena muridku tidak tertib namun karena
terlalu sayangnya dengan mereka.


Komentar
Posting Komentar