Kesulitan Belajar - Dyslexia
Suatu saat ketika seorang anak memasuki kehidupan sosial, sekolah, merupakan momen istimewa bagi anak maupun orangtuanya. Tetapi manakala momen indah tersebut menjadikan momen yang juga mencemaskan bagi orangtua. Mencemaskan artinya bahwa ada masalah yang dialami oleh si anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan, sikap belajar didalam kelas, perlakuannya terhadap orang-orang disekitar, bagaimana anak berinteraksi dan lain-lain. Kondisi ini juga terkadang tidak menjadi perhatian khusus bagi orangtua, karena tidak sedikit yang menganggap bahwa yang terjadi pada anak mereka adalah bagian dari pertumbuhan dan adaptasi terhadap sesuatu yang baru bagi anak. Namun siapa bisa menyangka ternyata kondisi-kondisi tersebut perlu mendapat perhatian khusus yang mungkin saja mengarah kepada suatu masalah yang disebut dengan kesulitan belajar. Maka kondisi seperti inilah yang perlu dicermati oleh orangtua dan bagaimana memecahkan persoalan ini sehingga tidak menimbulkan masalah yang semakin besar.
Istilah “kesulitan belajar” secara umum diterapkan pada keadaan dimana kesulitan belajar yang ditemui disandang oleh individu yang memang mengalami gangguan neurologis atau gangguan perkembangan seperti Autis, tuna grahita, Down Syndrome, gangguan dengar berat, gangguan penglihatan berat, cerebral palsy, dan sindrom-sindrom lainnya. Kesulitan belajar terjadi pada anak dengan tingkat intelegensi yang memang di bawah rata-rata, sehingga sesungguhnya kesulitan tersebut merupakan hal yang ”wajar” dan sudah dapat diprediksikan sebelumnya.
Terminologi lain yang sering tertukar pengertiannya dengan “kesulitan belajar” adalah “kesulitan belajar spesifik” atau dikenal sebagai “dyslexia”. Dyslexia berasal dari bahasa Greek yaitu “dys” berarti kesulitan, dan “lexis” yang berarti bahasa, sehingga Dyslexia bermakna sebagai kesulitan belajar spesifik berupa kesulitan membaca, mengeja, dan menulis, yang tidak sebanding dengan tingkat intelegensinya karena dyslexia justru terjadi pada anak yang mempunyai riwayat perkembangan normal dan tingkat kecerdasan yang normal, bahkan di atas rata-rata. Dyslexia terjadi karena adanya perbedaan cara pengolahan input bahasa/symbol pada otak penyandang dyslexia dibandingkan dengan otak anak yang bukan penyandang dyslexia. Hal ini berakibat individu penyandang dyslexia melakukan proses pembelajaran yang berbeda dari individu lainnya yang tidak dyslexia. Penelitian terkini membuktikan bahwa dyslexia merupakan suatu keadaan yang diturunkan dan terdapat faktor gen tertentu yang bertanggung jawab atas terjadinya keadaan ini. Dyslexia biasanya ditunjukkan dengan kesulitan seorang anak terutama di area mengenal huruf, mengenal angka, membaca, menulis, mengeja, dan disertai dengan keluhan gangguan konsentrasi, serta mudah lupa. Anak juga kerap menunjukkan sikap yang tidak bisa duduk tenang saat mengikuti pelajaran, duduk selonjoran atau bertumpu pada tangan, grasa-grusu sehingga menjatuhkan pensil atau buku yang ada di mejanya. Dyslexia tidak diakibatkan karena suatu kebodohan dan tidak disebabkan oleh latar belakang sosial ekonomi keluarga yang buruk, atau oleh paparan membaca yang kurang ataupun karena anak kurang motivasi belajar. Penyandang dyslexia juga biasanya mempunyai talenta khusus yang istimewa di bidang-bidang tertentu. Orang dewasa penyandang dyslexia yang dikenal luas dan memiliki prestasi yang sangat baik diantaranya adalah Leonardo da Vinci, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison dan mantan PM Singapur, Mr. Lee Kwan Yu.
Istilah “kesulitan belajar” secara umum diterapkan pada keadaan dimana kesulitan belajar yang ditemui disandang oleh individu yang memang mengalami gangguan neurologis atau gangguan perkembangan seperti Autis, tuna grahita, Down Syndrome, gangguan dengar berat, gangguan penglihatan berat, cerebral palsy, dan sindrom-sindrom lainnya. Kesulitan belajar terjadi pada anak dengan tingkat intelegensi yang memang di bawah rata-rata, sehingga sesungguhnya kesulitan tersebut merupakan hal yang ”wajar” dan sudah dapat diprediksikan sebelumnya.
Terminologi lain yang sering tertukar pengertiannya dengan “kesulitan belajar” adalah “kesulitan belajar spesifik” atau dikenal sebagai “dyslexia”. Dyslexia berasal dari bahasa Greek yaitu “dys” berarti kesulitan, dan “lexis” yang berarti bahasa, sehingga Dyslexia bermakna sebagai kesulitan belajar spesifik berupa kesulitan membaca, mengeja, dan menulis, yang tidak sebanding dengan tingkat intelegensinya karena dyslexia justru terjadi pada anak yang mempunyai riwayat perkembangan normal dan tingkat kecerdasan yang normal, bahkan di atas rata-rata. Dyslexia terjadi karena adanya perbedaan cara pengolahan input bahasa/symbol pada otak penyandang dyslexia dibandingkan dengan otak anak yang bukan penyandang dyslexia. Hal ini berakibat individu penyandang dyslexia melakukan proses pembelajaran yang berbeda dari individu lainnya yang tidak dyslexia. Penelitian terkini membuktikan bahwa dyslexia merupakan suatu keadaan yang diturunkan dan terdapat faktor gen tertentu yang bertanggung jawab atas terjadinya keadaan ini. Dyslexia biasanya ditunjukkan dengan kesulitan seorang anak terutama di area mengenal huruf, mengenal angka, membaca, menulis, mengeja, dan disertai dengan keluhan gangguan konsentrasi, serta mudah lupa. Anak juga kerap menunjukkan sikap yang tidak bisa duduk tenang saat mengikuti pelajaran, duduk selonjoran atau bertumpu pada tangan, grasa-grusu sehingga menjatuhkan pensil atau buku yang ada di mejanya. Dyslexia tidak diakibatkan karena suatu kebodohan dan tidak disebabkan oleh latar belakang sosial ekonomi keluarga yang buruk, atau oleh paparan membaca yang kurang ataupun karena anak kurang motivasi belajar. Penyandang dyslexia juga biasanya mempunyai talenta khusus yang istimewa di bidang-bidang tertentu. Orang dewasa penyandang dyslexia yang dikenal luas dan memiliki prestasi yang sangat baik diantaranya adalah Leonardo da Vinci, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison dan mantan PM Singapur, Mr. Lee Kwan Yu.

Komentar
Posting Komentar