Ini Medan, Bung!
21 Januari 2014 tepat pukul
17.00 saya tiba di Bandar Udara Kuala Namu, Medan Sumatera Utara. Bandar Udara
baru ternyata, sebelumnya yang saya tahu adalah Polonia. Pertama kalinya
menginjakkan kaki di Sumatera Utara dan untuk menghadiri debat calon presiden.
Lagi-lagi akan menjadi catatan sejarah baru dalam hidup.
Kedatangan saya bersama tim
merupakan rombongan pertama, kami bertiga. Mas Anies tak lama sekitar 1,5 jam
setelah jadwal kami. Barang yang dibawa sangat banyak, sampai-sampai over
baggage. Semua adalah perlengkapan "perang" untuk menaklukan Medan 3
hari kedepan. Kami dijemput oleh driver yang namany pak Pohan. Perjalanan dari
Kuala Namu ke Medan membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Kami diantar menuju
hotel untuk menaruh beberapa barang. Hari itu, kami mengadakan pertemuan dengan
relawan TurunTangan Medan di Warung Kopi Agus yang diagendakan pukul 18.00.
Pesawat terlambat berangkat dari Jakarta, Kuala Namu yang ternyata jauh dari
kota, dan Medan sebagai kota nomor 3 terbesar di Jakarta juga tidak kalah
semrawutnya dengan Ibukota Jakarta.
Saya tiba di Warung Kopi Agus sekitar pukul 19.00. Tak disangka, banyak sekali relawan TurunTangan yang hadir. Menurut laporan, teman-teman yang berkumpul 40 orang. Ternyata Warung Kopi Agus sudah dimonopoli oleh relawan TurunTangan, 120 orang. Beberapa dari mereka memang sudah menjadi relawan, sudah sign up di aniesbaswedan.com. Namun tidak sedikit yang baru. Bahkan diantaranya, belum tahu banyak tentang Anies Baswedan. Aura positif memenuhi Warung Kopi Agus. Semangat turun tangan rame-rame ini begitu terasa. Kami berbagi cerita, pendapat dan gagasan tentang hal baik yang sedang sama-sama kita kerjakan ini.
Saya tiba di Warung Kopi Agus sekitar pukul 19.00. Tak disangka, banyak sekali relawan TurunTangan yang hadir. Menurut laporan, teman-teman yang berkumpul 40 orang. Ternyata Warung Kopi Agus sudah dimonopoli oleh relawan TurunTangan, 120 orang. Beberapa dari mereka memang sudah menjadi relawan, sudah sign up di aniesbaswedan.com. Namun tidak sedikit yang baru. Bahkan diantaranya, belum tahu banyak tentang Anies Baswedan. Aura positif memenuhi Warung Kopi Agus. Semangat turun tangan rame-rame ini begitu terasa. Kami berbagi cerita, pendapat dan gagasan tentang hal baik yang sedang sama-sama kita kerjakan ini.
Mas Anies sementara masih
berkunjung ke media. Waspada namanya. Sebuah media cetak tertua nomor dua di
Indonesia. Waktu semakin larut, sosok pemimpin negeri ini akhirnya datang.
Kalau tidak salah sekitar pukul 21.30. Semangat teman-teman relawan tidak
redup. Bahkan Fauzan, moderator malam itu berkata "sampai pagi pun kami
mau diskusi terus dengan bapak" lalu disambut tawa dan tepuk tangan dari
teman-teman yang lain. Mas Anies datang sambil menyalami satu persatu. Diskusi
dan tanya jawab berakhir sampai pukul 23.30. Tidak ada seorangpun relawan yang
pulang lebih dulu, mereka semua tinggal sampai acara berakhir.
Hari kedua di Medan. Pukul 09.30
kami tim semua mengunjungi Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda. Sekolah
berlandaskan pluralisme. Siswa-siswi yang bersekolah disana terdiri dari
berbagai macam etnis, agama, suku dan budaya yang berbeda-beda. Di halaman
belakang sekolah terdapat tempat ibadah masing-masing agama yang jaraknya
berdekatan. Ada masjid, gereja, pura dan wihara. Mas Anies bertemu dengan pemilik
yayasan dan kemudian menyempatkan hadir dikelas 12 untuk menyapa murid-murid.
Mas Anies berbicara soal cita-cita, "lahir boleh dimana saja, tapi mimpi
harus dilangit" begitu yang disampaikannya di kelas.
Selesai dari sekolah kami menuju warung Kopi Ulee Kareng untuk kembali berdiskusi dengan teman-teman wartawan dan beberapa komunitas yang ada di Medan. Acaranya ini dipersiapkan khusus dari teman-teman Sekolah Kebangsaan Pemuda Indonesia, yang mereka namai Obrolan Kedai Kopi. SKPI adalah salah satu program dari pusat kajian kepemudaan dan kewirausahaan di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( FISIP ) Universitas Sumatera Utara. Mas Anies menyampaikan bahwa untuk membawa Indonesia kearah lebih baik perlu ada perubahan pada pemimpinnya, serta masyarakat jangan pernah takut untuk mengirimkan orang yang tidak bersalah.
Dari obrolan kedai kopi, kami
kembali ke hotel. Mempersiapkan awal dari langkah besar ini, debat calon
presiden konvensi Demokrat. Debat dimulai pukul 20.00 , saya sudah bersiap
hadir lebih dulu dengan teman-teman relawan TurunTangan Medan. Mempersiapkan
booth dan undangan. Etape pertama di Kota Medan ini berlangsung di Istana
Maimun. Mas Anies bersanding dengan Dino Pati Djalal, Marzukie Alie dan
Endriartono Sutarto. Seharusnya ada pula Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo
Sarundajang. Namun karena bencana yang sedang melanda di Manado, maka ia tidak
hadir dalam debat. Debat berlangsung baik. Masing-masing calon memberikan
performa terbaiknya diatas panggung. Masing-masing kandidat mendapat kesempatan
waktu 3 menit untuk menjawab. Debat berakhir pukul 23.00. Mas Anies
menyempatkan mampir di booth relawan yang menyapa teman-teman disana. Tidak
hanya relawan TurunTangan, beberapa relawan dari kandidat lainpun ingin berfoto
dengan mas Anies.
Dengan yel-yel “Anies Baswedan”
dan kemudian diikuti dengan teriakan serentak “TurunTangan” sambil mengangkat
tangan keatas. Begitulah cara teman-teman relawan TurunTangan mendukung
jagoannya, Anies Baswedan. Lagi-lagi mereka hadir, berdiri tegak didepan
panggung tanpa ada satupun diantara mereka yang pulang lebih dulu. Beda dengan
pendukung calon lainnya. Satu diantara mereka yang menarik dan sangat unik,
namanya Sondang. Mahasiswi Hukum Universitas Sumatera Utara yang datang
jauh-jauh dengan menggunakan kursi roda. “Saya fans berat pak Anies dari dulu
kak” begitu katanya. Sondang dulunya adalah atlet pencak silat, saat bertanding
mengalami kecelakaan pada bagian punggung belakangn yang membuatnya sekarang
harus berada diatas kursi roda.
Medan memang luar biasa. Kuala
Namu yang modern, stasiun kereta api bandara serasa seperti berada di luar
negeri, becak motor yang unik, lampu merah tak lagi jadi rambu lalu lintas,
durian dan bolu Miranti khasnya. Mengisahkan keberagaman. Semangat yang
ditorehkan dari relawan Kabupaten Sibolga yang menempuh jarak 12 jam menggunakan
sepeda motor untuk sampai ke kota Medan, mereka tunjukkan demi upaya turun
tangan rame-rame ini. Katanya “bahwa untuk mewujudkan sesuatu yang besar kita
butuh pengorbanan yang besar pula, tidak ada usaha besar dihasilkan dengan
usaha kecil”.


Komentar
Posting Komentar