Harapan Itu Selalu Ada


Saya bermalam dirumah seorang sahabat satu hari sebelum perjalanan ini dimulai. Kami yang tadinya masih ragu, bukan ragu Anies Baswedan dapat memenangkan konvensi dan lalu menjadi presiden, kami hanya ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa politik memang harus diisi oleh orang yang tak bermasalah, bahwa kami memang harus ikut turun tangan.

Sekitar pukul 04.30 pagi relawan mulai berdatangan, terlihat wajah-wajah optimis atas awal perjalanan nyalakan harapan ini. Ada yang datang untuk menyambut keberangkatan. 3000 km ini bukan sekadar jalan-jalan biasa, ada sejuta harapan yang akan kita temui dan kumpulkan untuk lalu bersama kita wujudkan untuk Indonesia yang kuat dan bermatabat.

Auara positif memenuhi tempat itu, Ciasem I. Dengan pekerjaan masing-masing, walau tidak semua dari kami ikut dalam perjalanan, tapi dari tempat kami, doa dan semangat menyertai. Dimulai dari titik nol, ikhtiar bahwa kita semua sepakat Indonesia masih punya harapan.

Perjalanan nyalakan harapan menembus 3000 km pulau Jawa di mulai dengan destinasi pertama, yaitu kota Bandung. Pukul 09.30 WIB sampainya kami di Kota Kembang, relawan dari komunitas vespa dan sepeda sudah menunggu kedatangan rombongan, mas Anies Baswedan turun dari bus dan ikut mengendarai vespa menuju kantor Indonesia Menggugat. Sudah menunggu puluhan relawan disana. Mereka hadir juga dengan harapan. Disana Mas Anies berbicara tentang gagasannya, ajakan untuk turun tangan benahi negeri ini. Seperti membayangkan Soekarno ketika membacakan pledoi pada persidangan di Landraad, Bandung tahun 1930. Sebagai penutup, seorang relawan mempersembahkan lagu ciptaanya sendiri yang berisi tentang keIndonesia-an.

Sementara kaum laki-laki menjalanankan kewajibannya untuk salat Jumat, kaum perempuan menyiapkan untuk makan siang. Mas Anies bertemu dan makan siang bersama walikota Bandung, Ridwan Kamil. Setelah makan siang, Mas Anies juga menyempatkan mengisi kuliah umum di UNISBA.

Tasikmalaya menjadi destinasi kedua dalam rangkaian perjalanan 3000 km Nyalakan Harapan. Dengan perkiraan waktu tempuh 3 jam, sambil tak lupa mampir beli tahu goreng. Sore sudah berganti malam, kami tiba di Cipasung, salah satu pesantren ternama di daerah itu. Disuguhi makan malam oleh tuan rumah yang adalah pimpinan pesantren. Mas Anies kembali berorasi didepan ratusan santri. Selesainya pukul 22.00 WIB, sementara kami rombongan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta tepatnya di Imogiri dan mas Anies kembali dulu ke Jakarta menghadiri acara pernikahan keluarganya.

Kami bertemu kembali di Yogyakarta, di kabupaten Bantul, desa Pandansimo. Namun sebelumnya saya dengan beberapa kawan relawan menemui relawan Turun Tangan Yogyakarta di Kongkalikong cafe di Jl Taman Siswa. Pertemuan yang tidak disangka, 50 orang lebih relawan hadir disana, mereka juga punya kerinduan yang sama, ingin Indonesia kita lebih baik, mereka siap turun tangan.

Mas Anies tiba di bandar udara Adi Sucipto pukul 14.00 WIB dan langsung menuju Bantul. Sudah menunggu pula komunitas nelayan dan petani hebat di pesisir Pandansimo. Dilahan pasir, percis tepi pantai mereka membuat lahan pertanian. Lagi-lagi membuktikan bahwa usaha dan kerja keras tidak ada yang sia-sia. Begitu pula apa yang sudah sampai hari ini kita kerjakan dalam upaya turun-tangan rame-rame ini. Tak pedulipun hujan lebat yang mengguyur. Acara selanjutnya adalah menemui komunitas-komunitas yang diadakan di Kopi Joss samping stasiun tugu Yogyakarta. Suasana sehangat jahe susu menjadi teman dalam diskusi malam itu.

Anggota rombongan bertambah dengan hadirnya isteri dan anak-anak mas Anies. Perjalanan kami lanjutkan menuju Blitar. Paginya kami sempatkan mampir ke Madiun untuk bersih-bersih dan sarapan pagi. Sampai kami di Blitar, tempat dimana pendiri bangsa ini dimakamkan. Dari tempat parkir menuju makam sekitar 1 km, ada yang naik becak ada juga yang jalan kaki. Mas Anies salah satunya yang jalan kaki. 

Dari Blitar kami menuju Kediri. Disana mas Anies bertemu beberapa tokoh pesantren. Karena laju bus tidak secepat mobil pribadi, maka mas Anies bersama beberapa orang duluan menggunakan mobil, harapannya sampai dilokasi lebih cepat. Di sela menunggu mas Anies kami menyicipi batagor dan tahu pong khas Kediri.

Hujan menjadi teman mengantar kami sampai ke Jombang. Bertemu Gus Solah dan ziarah ke makam presiden ke-4 Republik Indonesia, Kyai Haji Abdulrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Tidak selesai sampai situ, mas Anies berdiskusi dalam sebuah forum yang dihadiri kebanyakan pendidik. Suasana pagi itu beda dari biasanya. Kejujuran dari setiap pertanyaan yang disampaikan, keberanian menyampaikan pendapat. Ada yang setuju, ada pula yang tidak, menggebu namun terbesit ragu. Tapi dari sini, kesepakatan yang menyatakan bahwa Indonesia masih ada harapan terasa betul. Kemudian saya merenungi, usaha kita tidaklah soal menang atau kalah, mas Anies memang tak sempurna, tapi dengannya saya yakin negeri ini akan jauh lebih terurus, dan membuat saya tak lagi khawatir untuk berbuat lebih lagi untuk Indonesia.

Jombang titik terbaik dari setengah perjalanan yang sudah kami lewati. Melanjutkan menuju Surabaya untuk singgah di Universitas Trunojoyo, Madura. Sambutan meriah dari para mahasiswa. Mas Anies yang tidak sekalipun saya lihat nampak lelah, kembali menggelorakan semangat turun tangan. Saya juga berkesempatan bertemu dengan koordinator relawan Turun Tangan Madura, Irul mahasiswa semester 9 fakultas pendidikan. Irul bercerita tentang kenapa ia mau turun tangan dan mendukung mas Anies sebagai calon presiden 2014.

Bebek Sinjai tak boleh terlewatkan ketika menginjakkan kaki di Madura. Puji Tuhan saya sempat merasakannya walau harus jadi santapan makan malam di bus. Dari Madura kami menuju kota Surabaya, Taman Bungkul. Prestasi besar lagi, Taman Bungkul dinobatkan sebagai taman terbaik se-Asia Tenggara. Disana sudah berkumpul lagi puluhan relawan. Mas Anies datang ikut disambut oleh masyarakat di sekitar Taman Bungkul. Malam itu diskusi bersama teman-teman relawan Surabaya, mas Anies menceritakan tentang perjalanan Nyalakan Harapan, tentang misi kita untuk tidak sekadar urun angan. Salah seorang relawan membacakan puisi untuk mas Anies sebelum diskusi dimulai.

Pukul 21.00 WIB mas Anies mengajak kita semua untuk menyalakan harapan lewat ceremonial melepaskan lampion. “Kami hadir untuk member optimism dan harapan, lewat Lampion ini sebagi lambing bahwa harapan itu masih ada dan kita bisa melampaui harapan itu. Pelepasan ini adalah symbol lepaskan harapan setinggi-tingginya untuk kemajuan Republik ini” kata mas Anies sebelum melepaskan lampionnya bersama mbak Feri Farhati, isteri mas Anies.

Surabaya – Rembang menjadi perjalanan yang cukup panjang. Pukul 02.00 dini hari kami memutuskan untuk berhenti di rest area di Tuban Jawa Tengah. Melanjutkan lagi menuju Rembang untuk bertemu dengan Gus Mus, budayawan dan pengasuh pesantren Raudhlatuth Thalibin, di kediamannya. Dalam kunjungannya tersebut mas Anies disambut keluarga besar Gus Mus. Dalam pertemuan ini mas Anies membacakan puisi karya Gus Mus tahun 2006 yang berjudul “Negeri Sulapan”.
Rembang menjadi destinasi terakhir perjalanan 3000 km Nyalakan Harapan buat saya. Pamit undur diri terlebih dahulu untuk bermalam Natal bersama keluarga di Jakarta. Namun tidak untuk teman-teman yang lain, setelah dari Rembang lalu ke Semarang untuk bertemu dengan relawan Turun Tangan Semarang. Sebelum saya dan beberapa kawan relawan meninggalkan Rembang ke Semarang untuk lalu menuju Jakarta, mas Anies menyampaikan apresiasinya, ucapan selamat Hari Raya serta salam untuk keluarga. Kali ini begitu haru rasanya, sederhana yang disampaikan mas Anies “Selamat berlibur, holyday” makna ini nyata adanya Holy-Day, yang teman-teman rasakan” katanya.

Sementara rombongan masih berada di Rembang, relawan turun tangan Semarang sudah hadir dari pukul 14.00 WIB sementara rombongan baru hadir pukul 16.30 WIB karena macet yang tidak diprediksi. Namun semangat tak menjadi redup. Dengan spanduk bertuliskan “Anies Baswedan: Pemimpin tak lolongkan Ratapan, tapi Gelorakan Harapan” relawan Semarang menyambut kehadiran kami.

Semarang lalu Pekalongan dan kembali pulang ke Jakarta. Di Pekalongan mas Anies bertemu dengan walikota Pekalongan yaitu Muhammad Basyir. Pertemuan diadakan di rumah dinas walikota. Selain bertemu walikota mas Anies juga menyempatkan bertemu dengan komunitas-komunitas lokal di kota batik tersebut.

Dua kotak harapan untuk negeri sudah terisi penuh. Dari Jakarta sampai Pekalongan setiap orang sudah menuliskan harapannya. Rombongan sampai dengan selamat tanpa kurang sutu apapun di Jakarta pukul 10.00 WIB dan kembali disambut teman-teman relawan turun tangan Jakarta. Harapan-harapan yang sudah terkumpul ini harus dikerjakan bersama-sama karena Indonesia ini adalah milik kita semua. “Alhamduilah etape pertama ini sudah selesai, di tiap daerah yang kita kunjungi kita sebarkan optimisme” ucap mas Anies setelah sampai di Jakarta.



25 Desember 2013



*perjalanan 3000 km Nyalakan Harapan ini dilaksanakan mulai tanggal 20 Desember - 25 Desember 2013





Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer