Mengenal Dunia, Indonesia dan diri Sendiri
Tentang Anak Berkebutuhan Khusus
Saya lupa tepatnya kapan. Di hari itu saya sedang duduk bersama teman saya, teman satu tim olahraga di fakultas maupun universitas. Tidak ada obrolan serius hanya menceritakan aktivitas masing-masing. Ketika teman saya ini cerita tentang apa yang sedang ia lakukan dengan mudahnya saya nyeletuk “mau dong ikutan, jadi volunteer kek ngapain gitu”. Teman saya ini sedang dalam penyelesaian tugas akhir skripsi dan penelitiannya di lakukan di salah satu sekolah dasar dengan klasifikasi anak berkebutuhan khusus. Saya saat itu juga tertarik, tertarik lebih kepada rasa penasaran. Apa sih anak berkebutuhan khusus? Seperti apa mereka? Dan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian semakin memenuhi kepala ini. Sialnya teman saya menanggapi dengan serius, ia pun menanyakan kepada pihak sekolah. Saya diminta mengirimkan CV.
Tidak lama kabar seru ini datang, katanya, saya diperbolehkan menjadi relawan disekolah tersebut. Menjadi guru pendamping kelas Intervensi Dini (TK) yang menangani anak-anak yang sangat istimewa. Keterbatasan yang sebetulnya membuat mereka menjadi lebih istimewa dibanding keistimewaan yang lain. Siswa yang paling menarik perhatian saya namanya Ikhsan. Kosentrasinya lemah, tidak bisa duduk tenang, tangannya cukup lemah untuk menulis. Namun luar biasa kepekaannya terhadap sekitar. Ikhsan istimewa, semangat orang tuanya yang tak kenal lelah setiap hari jam 6 pagi mengantar Ikhsan ke sekolah dari Tangerang ke Senopati, menunggunya dan mengantarnya kembali untuk melakukan terapi. Saya merasa seperti manusia yang tidak tahu diuntung, dengan apa yang saya miliki tetapi masih saja suka bersungut-sungut tanda tidak bersyukur. Kehadiran saya disana selama kurang lebih 3 tahun membawa saya untuk mengenali lebih lagi setiap ciptaaNnya.
Tentang Pelosok Nusantara
Saya belum pernah bepergian jauh untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama, 1 tahun. Sekalinya pergi, ditempatkan di paling selatan Republik ini, Pulau Rote Nusa Tenggara Timur. Bukan hanya jauh dari hiruk pikuk gemerlap lampu penerang atau keramaian aktivitas manusia tanpa kenal waktu, saya jauh dari kata “maju” yang ada hanya “kurang” dan “tidak”. Kurang tenaga pengajar, kurang fasilitas umum, tidak ada air, tidak ada lauk pauk. Pertanyaannya, kenapa saya ingin kesana? Kenapa saya mau hidup satu tahun dengan kata “kurang” dan “tidak” itu? Meninggalkan apa yang mereka bilang kenyamanan. Alasan saya sederhana -paling tidak- saya sudah punya satu jawaban “I’ve done something” untuk diri saya dan tanah dimana Ibu melahirkan saya.
Ibu Yosvina Loasana, kepala sekolah di SD saya ditempatkan. Dengan segala kisah hidupnya, suaminya meninggal karena serangan jantung disaat yang bersamaan diangkat menjadi kepala sekolah, tak lama setelah dilantik orang tua dan mertuanya meninggal dunia. Apakah Ia sudah selesai dengan dirinya? Saya rasa belum. Dalam kondisinya yang berkecamuk saat itu Ia tetap menjalankan tanggung jawabnya, alhasil (baru saja saya terima kabar dari kawan disana) sekolah ini mendapat bantuan dari pusat untuk pembangunan perpustakaan. Dari seluruh Kabupaten Rote Ndao, hanya 2 (dua) sekolah termasuk sekolah saya ini SD Inpres Oeoko mendapatkan bantuan tersebut. Saya percaya bahwa ini bukan usaha sang kepala sekolah semata, namun kerja kolektif, kerja bersama orang tua, guru, siswa, komite yang ingin menciptakan kebaikan untuk anak-anaknya. Mereka hanya ingin SD Inpres Oeoko menjadi lebih baik, mereka ingin anak-anak mereka bisa memperoleh ilmu lebih agar kelak menjadi anak yang membanggakan bagi Nusa dan Bangsa.
Satu tahun yang tidak dapat tergantikan dengan kisah apapun. Canda, tawa, air mata, luka, semua terangkum dalam satu kata, Kebahagiaan. Saya belajar dari mereka yang terbatas namun selalu memberi, belajar dari mereka yang sederhana tetapi tak henti bekerja keras. Belajar bahwa tidak perlu harus sudah selesai dengan dirinya baru dapat berkontribusi untuk Negerinya.
Selesainya saya dengan diri saya hanya ketika Sang Pencipta mengambil saya kembali. Supaya ketika ada pertanyaan, apa yang sudah kamu lakukan buat Negaramu? Saya punya jawaban “saya ikut turun tangan dengan memilih untuk menjaga dan memelihara Indonesia yang Engkau ciptakan dan titipkan ini”.
Dan saya memilih cara INI untuk Menjadi Indonesia.

Komentar
Posting Komentar