Mutiara Terpendam di Pagar Selatan Nusantara
Rivon Ndun. Kadang teman-temannya
memanggilnya Ivon. Namun aku terbiasa memanggilnya dengan Rivon. Jagoan berumur
11 tahun saat ini duduk di kelas 5 SD Inpres Oeoko. Aku tidak pernah lupa saat
pertama kali bertemu dengannya. Rivon selalu memberikan senyum manis paling
manis yang pernah kudapatkan. Selalu punya nada khas ketika memanggilku “Ibu
Anggun”. Apapun rasanya hari ini, setiap kali aku berjumpa dengannya tidak
pernah senyum itu hilang dari padaku. Seolah-olah itulah senyum yang hanya
Rivon berikan khusus untuk aku.
Setiap pelajaran Bahasa Inggris
hari Kamis di kelas 5. Rivon tiada lupa menghampiriku di kelas 3 (kelas dimana
sebelum mengajar di kelas 5). Menawarkan dirinya membawa barang milikku sambil bertanya
“Ibu di kelas 5 ko?”. Selama
pelajaran berlangsung Rivon selalu menunjukkan sikap terbaiknya, tidak pernah
melawan atau bahkan membuat ulah.
Hampir sudah 2 minggu aku merasa
kehilangan Rivon. Senyum tulus untuk Ibu Anggun tidak lagi kulihat dari wajahnya.
‘Kemana Rivon?” tanyaku kepada
siswa-siswi kelas 5. “Sakit, Ibu.
Kemarin beta lihat ada diantar ke Pustu” Pustu adalah singkatan dari
Puskesmas Pembantu. Namun biasanya jarang sekali ada bidan atau tenaga medis
yang ada disana bahkan sering kali tutup. “Sakit
apa?” tanyaku lagi. “Son tahu Ibu”
anak-anak serempak menjawab. Setelah pelajaran habis, anak-anak mengahmpiriku. “Ibu, katong pi jenguk Rivon dirumah saja
nanti sore” . Aku langsung mengangguk iya. Bersama anak-anak aku menjenguk
Rivon. Berjalan kaki kerumahnya selama 30 menit. Dua minggu aku tidak
melihatnya. Rivon terlihat sangat kurus. Sakit perut katanya. Karena tidak
berjumpa mamaknya dirumah. Aku bersama anak-anak menghampiri ke kebun. Mamak
cerita kalau Rivon kena magh sudah parah. Sempat masuk rumah sakit namun hanya
sehari. Mamak juga bilang kalau akan diobati dengan obat tradisional saja.
Makanya Rivon dibawa pulang.
Matahari terlihat bersinar lebih
cerah dari biasanya. Ternyata benar. Pagi-pagi sampai di sekolah aku sudah
disambut dengan senyum yang hanya untukku saja itu. Rivon sudah masuk sekolah.
Hari ini ternyata adalah jadwal praktek Mulok. Anak-anak membuat ketrampilan
yang berasal dari bahan lokal. Kelas 5 mendapat tugas membuat sebuah kerajinan
tangan berupa kalung dan gelang.
Pelajaran pertama sudah berakhir.
Jam menunjukkan waktu istirahat pertama. Biasanya aku ikut bermain dengan
anak-anak. Ketika baru saja keluar dari kelas, Rivon sudah menghampiriku.
Membawa hasil karyanya. “Untuk Ibu ko?” kataku,
“Ya kalau Ibu mau ambil sa”. Seutas
kalung bambu berwarna cokelat kehitaman dengan hiasan salib. Betapapun sangat
menarik perhatianku. Aku beranjak menghampiri kelas 5. Melihat mereka sedang
bekerja membuat prakarya itu. Bambu kecil, senar dan biji-bijian adalah
beberapa bahan dasarnya. Memang milik Rivon yang paling menarik. “Ibu mau saya buatkan lagi? Yang tadi
kurang bagus” Tidak juga saya menolaknya, “Bagaimana kalau Ibu kerumahmu nanti sore?”.
Jam 3 matahari masih terang
benderang. Rivon menjemputku dirumah, lalu kami sama-sama pergi. “Bambunya kita cari dulu di hutan Ibu”. Ditemani
Aldo, Irvan dan Iwan kami bergegas ke hutan. Setelah mendapatkan beberapa
bambu. Langsung saat itu juga Rivon mulai memotongnya kecil-kecil. Ukurannya
harus sama. Sungguh teliti sekali Rivon membuatnya. Kegiatan mencari dan
memotong bambu ini cukup lama. Tak sadar senja mulai menjemput. “Kita lanjut besok sa Ibu, ini su mau
gelap”.
Keesokan harinya saya kembali
menghampiri Rivon dirumah. Kali ini kami tidak perlu kehutan lagi, ternyata
Rivon sudah memotong habis bambu itu. Aku juga membawa senar yang dimintanya
kemarin. Bambu yang sudah dipotong-potongnya itu tidak begitu saja langsung
rivon susun pada senar. Diajaknya aku ke dapur. Ya, bambu-bambu kecil itu akan
terlebih dahulu digoreng diatas tungku dengan minyak kelapa. Prosesnya tidak
lama ketika sudah mulai kehitaman maka sudah bisa diangkat. Menunggu sampai
dingin barulah bambu-bambu dirangkainya pada senar dan menghasilkan sebuah
kalung yang indah.
Kepolosannya yang ketika ku tanya
cita-citanya ingin jadi apa. Sederhana tetapi memiliki sejuta makna “Beta ingin jadi petani sa, Ibu. Supaya
keluarga tidak kelaparan, ada beras dan sayur untuk makan”. Kalau sore hari
ketika sedang musim tanam dan ku ajak bermain bola, Rivon selalu bilang “Beta ada kerja dulu di kebun”. Pagar elok di depan kelas 5 adalah juga
hasil kemahirannya dalam berkebun. Mengkombinasikan menjadi warna-warni yang
indah juga adalah keahlinya.
Sepeti sebuah mutiara. Menyala ditengah keredupan. Rivon tidak pandai matematika atau pengetahuan alam. Tetapi lewat tangan mungilnya ia mampu memberi kesejukan dari apa yang tidak hanya dilihat oleh mata namun juga hati.


Komentar
Posting Komentar