Sekolah Kehidupan
Enam jam perjalanan telah membawa
saya sampai pada Nusa bagian Timur Indonesia. Satu jam lima belas menit dari
Jakarta ke Surabaya dimana saya harus menunggu sekitar dua jam untuk
melanjutkan kembali sampai ke Kupang. Belum sampai tempat yang dituju. Untuk
sampai di Pulau Rote saya harus menempuh dua jam perjalanan laut dengan
melewati selat ganas yang bernama Selat Pukuafu. Saya baru bisa menyeberang esok paginya. Karena
memang kapal menuju Rote hanya ada satu kali sehari.
Semangat yang menggebu tak sabar
melihat jagoan-jagoan kecil di pelosok Nusantara. Minggu pagi, 16 Juni 2012
sudah siap gendongan sampai melebihi kepala yang berisi kebutuhan selama kurang
lebih satu tahun. Saya menuju pelabuhan. Bersama delapan sahabat baru menyusuri
keindahan pesisir kota Kupang. Naik mobil bak terbuka ditemani alunan musik country. Semangat yang beradu dengan
rasa deg-degan. Mungkin ini ungkapan kebesaran kepadaNya yang kedua, ketika
saya sudah diberikan keselamatan sampai di Kupang sekarang kembali disuguhi
ke-agungan ciptaanNya yang paling luas, lautan. Pelabuhan Tenau memamerkan
kejernihan air yang berwarna biru kehijau-hijauan, ditambah kumpulan bocah yang
melompat beraksi ke dalam laut. Saya berani bertaruh, ketika kapal berlabuh di
Pulau Rote saya akan menjadi orang kampung yang paling kampung. Ternyata dugaan
saya salah, malah sebelum sampai di pulau Rote saya sudah duluan jadi
kampungan. Bagaimana tidak, setelah cukup tegang terombang-ambing di selat
Pukuafu. Aduhai! Saya menyaksikan arena gratis dua ekor lumba-lumba lompat
kesana kemari. Ini baru Indonesia.
Dua jam pun sudah lewat,
sampailah saya berlabuh di pelabuhan Baa, Rote Ndao. Dengan kasat mata saja
sudah nampak kemungilan tempat ini. Tidak banyak bangunan terpampang di tepian.
Mungkin hanya sekitar 1 km saja. Ada senyum, ada kegirangan, juga takut dan
khawatir. Saya benar-benar menginjakan kaki di ujung terdepan selatan
Nusantara. Selama ini bahkan saya belum pernah tahu dimana Pulau Rote. Kalau
lihat di peta barang secuil potongan roti tawar. Begitupun memang dulunya pulau
ini dikenal dengan Pulau Roti.
Terik matahari menyengat masih
menjadi lawan. Mereka yang sudah terdahulu menyambut dengan lebih girang.
Terdiam sejenak menyaksikan sekeliling. Bersalaman juga memperkenalkan diri. Saya
hampir saja menangis. Haru. Apa yang akan terjadi selama 1 tahun disini. Buat
saya dan keluarga baru disini. Namun suasana haru itu berubah menjadi sedikit
ketegangan. Mungkin ini rekayasa. Saya dan teman-teman tidak diizinkan keluar
pintu pelabuhan. Katanya, tidak punya surat izin tinggal. Bagian itu sudah
selesai. Ada bagian lain lagi (part 2),
disambut dengan segerombolan orang lokal, dimintanya saya mampir. Kemudian
disuguhi sirih dan pinang yang menjadi adat budaya Rote. Apalah rasa itu, mulut
saya berubah menjadi merah, pahit dan kepala sedikit pusing. Apa boleh buat,
itu cara menghargai kebudayaan setempat.
Masih dengan gendongan “karung
beras”, saya mulai berjalan menyusuri kota kabupaten. Yang siang itu seperti
kota mati. Toko tidak banyak yang buka, tidakpun orang-orang berlalu lalang.
Ini baru namanya pelosok. Berjalan hampir 1 km menuju penginapan, tidak ada
angkutan umum apalagi ojek. Hari Minggu sungguh-sungguh diperingati sebagai
hari istirahat, hari dimana Tuhan juga beristriahat setelah 6 hari lamanya
menciptakan alam semesta. Sesampainya hanya sempat beberapa menit merebahkan
tubuh, berganti baju dan bersiap untuk acara berikutnya. Entah apalagi. Katanya
akan ke Polres, terkait surat izin yang saya dan teman-teman tidak miliki. Apa
yang menurut saya barangkali adalah rekayasa ternyata benar. Malahan sambutan
meriah dengan nyanyian “selamat datang kawan, selamat data kawan, selamat
datang kami ucapkan” sambil masing-masing kami dikalungkan semacam karangan
bunga tetapi adalah gula-gula. Selamat Datang Pemberani.
Belum ada terbayang seperti apa
tempat tinggal, sekolah, masyarakat yang akan menjadi bagian kehidupan saya
selama 1 tahun. Hari in, Senin 17 Juni 2013 dengan langkah yang harus tegap
dengan hanya punya satu pilihan yaitu maju. Saya membiarkan hati ini merasakan,
apapun itu. Maka di mulailah sekolah kehidupan ini.
Rumah baru saya adalah Desa
Modosinal. Memiliki 5 dusun, slaah satunya Dusun Oeoko. Tempat tinggal saya.
Menurut bahasa Rote Oe memiliki arti Air dan Hoko adalah tidak. Maka Oeoko di
pahami dengan arti Tidak Ada Air. Dikelilingi hamparan padang dan persawahan,
hewan-hewan yang berkeliaran serasa seperti berada di Afrika. Panas yang
menjadi lawan, sebentar lagi akan menjadi kawan. SD tempat saya mengajar juga
tidak jauh dari rumah kurang lebih 500 meter yang ditempuh dengan berjalan
kaki.
Saya mendapati segala hal yang
tak pernah saya lihat, rasa dan alami sebelumnya. Ada ketakutan pasti,
kekhawatiran apalagi. Namun ini yang sudah saya pilih. Pilihan yang harus
dipertanggung jawabkan. Setiap hari kaki ini melangkah pada jalan berbatu
terkadang tanah basah yang menjadi lumpur. Setiap hari hati ini merasakan,
kebahagiaan yang sebetulnya sederhana. Saya tahu bahwa tugas saya memang
mengajar. Namun tidak demikian adanya. Saya yang belajar. Belajar tentang
hidup. Tentang kebesaranNya yang sering kali saya lupakan.
Bukanlah mudah saat seseorang
diberikan tugas ‘mengubah’ orang lain, ‘mengubah’ keadaan. Padahal diri ini
saja belum benar betul. Namun sekolah kehidupan ini mengantarkan saya untuk
mencari dan menemukan diri. Dengan
anak-anak yang selalu memberikan senyum tanpa henti. Dengan keterbatasan.
Tetapi tetap mau memberi. Masyarakat yang hidup membanting tulang. Susahnya
mereka untuk makan lauk. Tetap saja mereka tidak meminta, memeras atau apalah. Yang
mereka lakukan memberi dan memberi. Terkadang 2 (dua) buah telur ayam harus
dibagi untuk 6 anggota keluarga. Daging
yang menjadi makanan paling mewah. Dimana ketika ada pesta seluruh warga datang
serta. Kalau ditanya “mau pergi mana, Mak?”-- “ makan daging, Ibu”.
Pamrih mungkin mereka tidak tahu
artinya. Lebih baik begitu. Karena memang saya tidak pernah lihat ada pamrih
yang mereka minta. Ketulusan. Membangun sebuah rumah mereka kerjakan
bersama-sama. Setiap orang punya tugasnya masing-masing. Ada yang angkat batu,
angkat air. Bukan rumahnya. Bahkan rumah saudaranya pun tidak. Mereka rela
tidak beli lauk, katanya mau menabung kalau saya pulang ke jakarta nanti ingin
dibelikan kain. Pergi buru-buru ke kios untuk beli kopi saset dan biskuit.
Tahunya untuk disuguhkan buat saya. Seplastik daging diantar dari dusun yang
jauh lalu makan siang saya tak hanya nasi saja. Mereka hanya ingin memberi. Itu
saja.
Pernah saya bermain di kebun
dengan anak-anak. Ternyata tanahnya masih basah sisa hujan. Kaki saya penuh
lumpur, kotor. Pergilah mereka mengambil satu ember berisi air penuh dari
danau. Buat apa? “Ibu bersihkan dulu kaki Ibu yang kotor”. Tidak lagi hanya
membawakan air, berebut mereka ikut membersihkan kaki saya. Sedangkan yang
bertubuh mungil sering mencuri tas milik saya yang besar dan berat saat pulang
sekolah. Untuk apa? “saya yang bawa saja Ibu”.
Saya lebih banyak belajar. Kalau
anak-anak belajar dengan satu guru. Saya belajar dari 27 murid. Lalu siapakah
yang sebetulnya belajar? Sudah pasti saya. Belajar dari 174 jumlah seluruh
murid di sekolah, 13 guru dan pegawai sekolah, 300 kepala keluarga serta
seratus ribu penduduk Pulau Rote. Banyak
diluar sana bertanya-tanya. Mengapa memilih ke pelosok? Idealisme yang belum
banyak orang terima. Kadang saya berpikir, betul juga mereka bilang. Malah
pernah saya menyesal. Ketika saya tahu banyak orang disana sudah melaju
beberapa langkah justru saya memilih mundur . Namun setahun ini ternyata saya
menemukan banyak potensi. Baik bagi diri saya sendiri maupun untuk orang lain.
Semua orang bisa melakukan yang
baik, tetapi tidak semua orang dapat melakukan yang benar. Satu tahun
perjalanan sekolah kehidupan mengantar saya bukan hanya sekedar untuk merasakan
dan menyaksikan, bukan hanya melakukan yang baik. Tetapi untuk berbuat dan
melakukan yang benar.

Komentar
Posting Komentar