Sensasi Guru Mata Pelajaran
“Janganlah sibuk mencari yang sempurna, jika yang sederhana membuat bahagia”
Harapan akan menjadi penolong ketika kita mampu mengelolanya
dengan baik. Namun harapan tidak dapat berdiri sendiri, ia membutuhkan
keyakinan. Selama kurang lebih 7 bulan di Rote Ndao saya belajar tentang
manajeman harapan. Mulai dari level masyarakat (host fam) sampai kabupaten.
Saat saya resmi dilantik sebagai Pengajar Muda angkatan IV di Situ Lembang oleh
Pak Anies Baswedan. Saya punya harapan dan keyakinan. Tentunya harapan dan
keyakinan yang berbeda ketika saya belum menjadi Pengajar Muda yang akan
ditempatkan di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Sebagai seorang Pengajar Muda
yang adalah seorang pengajar/guru, saya mengidamkan satu kelas di SD penempatan
saya, yaitu SD Inpres Oeoko, satu kelas yang bisa saya ampu. Kelas berapapun,
rendah maupun tinggi. Dari laporan Pengajar Muda sebelum saya, Agung. Ia
mengampu di kelas 4 (empat). Sebelum pengumuman rombongan belajar ditentukan.
Saya punya harapan dan sudah membayangkan akan seperti apa nantinya kelas saya.
Hari itu, kalau tidak salah tanggal 27 Juni 2012. Kepala
sekolah mengadakan rapat tahun ajaran baru. Salah satu agendanya adalah
menentukan rombongan belajar. Saya tahu bahwa sekolah ini masih kekurangan 1
guru kelas. Maka saya yakin, saya akan mendapat kesempatan itu. Kepala sekolah
mulai membacakan dari kelas 6 sampai kelas 1 untuk guru yang bakal jadi wali
kelas. Sayapun deg-degan. Namun harapan pun sirna, karena dari kelas 6 sampai
kelas 1 tidak disembutkan nama saya. “Wah apa iya PM sudah tidak lagi
diperlukan di sekolah ini, atau jangan-jangan saya salah sekolah” Banyak asumsi
yang muncul dari benak saya saat itu. Pada akhirnya, kepala sekolah pun
menanyakan “Ibu Anggun bisa mengajar apa?” makin bingung kan saya. Dengan
ketegasan saya bilang kepada kepala sekolah, bahwa saya bisa dan siap mengajar
seluruh mata pelajaran SD. Tetapi apa boleh buat, kepala sekolah meugaskan saya
sebagai guru mata pelajaran Bahasa Inggris dari kelas 1 sampai 6, yang mana di
sekolah saya ini rombongan belajarnya ada 8 kelas (kelas 1 dan 2 pararel)
Tentunya kekecewaan itu ada. Kadang terus membayangi
hari-hari saya. Parahnya, jadi gemes sendiri. Ketika jam mengajar saya kosong, justru
sering melihat guru-guru yang di kelas tidak mengajar, mereka sibuk dengan
administrasi kelas. Murid dibiarkan. Namun seiring berjalannya waktu, saya
kemudian menemukan banyak sekali sisi positifnya. Pertama, sebagai guru mata pelajaran saya mempunyai kesempatan luar
biasa untuk mengenal seluruh siswa-siswi SDI Oeoko yang jumlahnya 174, dari
kelas 1 sampai 6. Kedua, kesabaran.
Yaitu dalam hal treatment. Ketika
saya mengajar di kelas 1 akan berbeda cara dan pendekatan ketika saya mengajar
di kelas 3, dan seterusnnya. Saya belajar karakter dan sifat mereka. Ketiga, kemampuan siswa. Saya tahu apa
minat dan bakat siswa di SD ini, mana yang jagoan menggambar, jagoan olah raga,
jagoan menyanyi dan lainnya. Atau saya pun jadi tahu dan dapat membantu siswa
yang masih kekurangan dalam Calsitung (Baca Tulis Hitung). Keempat, bukan hanya kelas tinggi tetapi kelas rendah juga mendapat
kesempatan belajar Bahasa Inggris. Kelima,
so many things to do. Dan lebih dari
pada itu semua saya bisa merasakan menjadi bagian keluarga kecil mereka.
Kehangatan dan kebersamaan.
Seperti di kelas 1. Setiap saya masuk kelas mereka, bagai
seorang idola. Mereka riuh bertepuk tangan tersenyum lebar menyambut saya
dengan teriakan “yeess yeee Ibu Anggun”. Kalau di kelas 2, saat saya berjalan
menuju kelas mereka, dari kejauhan para jagoan kecil ini berlarian masuk kelas
sambil memandangi saya penuh senyum ‘Ibu Anggun su datang e”, katanya. Lain
lagi di kelas 3, begitu kaki saya menapak di kelas ini, dengan lantang ketua
kelas memberi aba-aba “stand up, good
morning Miss Anggun”. Kadang mereka berebut untuk mempimpin mengucapkannya.
Di kelas 4, sudah pasti tiga anggota geng, Nando, Jekson dan Jermias.
Bergantian datang menjemput saya di ruang guru dan memaksa membawakan barang
yang saya bawa. Kelas 5 yang merupakan kelas tinggi, lebih lucu lagi. Jadwal
saya mengajar kelas 5 itu sesudah jam mengajar di kelas 3. Di jedah dengan
istirahat. Pada waktu jam istirahat itulah, murid-murid kelas 5 menyambangi
saya yang sedang beres-beres di kelas 3, katanya “Ibu di kelas 5 ko ini
habis?”. Sedangkan untuk kelas 6. Mereka malah memperlihatkan wajah malunya.
Atau saat saya meminta mereka menuliskan kesan hari ini sebelum mulai pelajaran
Bahasa Inggris, tidak banyak dari mereka menulis “beta senang Miss Anggun
mengajar di kelas 6, kasih kami pelajaran”. Namun tidak juga dipungkiri
sulitnya saya menghadapi tingkah laku mereka yang “betingkah”.
Kekecewaan mendatangkan kebahagiaan yang saya rasakan hari
demi hari. Mereka bisa membuat saya marah tetapi disaat yang sama pula mereka
membuat saya lebih banyak tersenyum. Tidak ada yang membuat luluh selain senyum
tulus di wajah manis mutiara selatan Indonesia. Yang kadang terlihat malu-malu.
Beruntungnya saya sebagai guru mata pelajaran. Memiliki
keberagaman rasa dan cerita. Mendapatkan banyak pelajaran berharga. Yang semuanya
membuat hidup saya selama satu tahun ini menjadi lebih berwarna.
Terima kasih, Nak. Kehormatan bagi Ibu bisa hadir di
kehidupan kalian yang singkat ini. Terima kasih karena telah membuat Ibu
memahami bahwa bahagia itu sederhana.


Komentar
Posting Komentar