Malamku Penuh Isi
Murid-muridku adalah semangatku.
Obat yang paling manjur dari segala obat apapun. Energiku seakan bertambah
ketika berada ditegah-tengah mereka. Sumpah. Memasuki bulan kelima di Bumi Ti’i Langga
sudah terlalu banyak pelajaran berharga, susah, senang, tawa, tangis yang aku
rasakan. Tantangan yang datang silih berganti tanpa henti. Membuatku
seolah-olah menjadi pribadi yang begitu kuat. Aku mulai bersahabat dengan
tantangan. Pernah aku berdiam dalam sepi, merenung. Tentang apa itu tantangan,
kenapa dan bagaimana itu semua hadir dalam kehidupanku. Ada refleksi yang aku
dapat malam itu. Bahwa tantangan adalah sebuah peningkatan prestasi. Adanya
tantangan karena kita adalah orang special
yang dipilih oleh Sang Pemberi Kekuatan untuk menjalani dan melewatinya. Aku
taruh itu dalam hati, menyimpannya baik-baik sehingga setiap menemui tantangan
aku siap menghadapinya.
![]() |
| cahaya harapan |
Malam yang ramai dengan suara
hewan. Jarak antara rumah satu dengan lain yang cukup jauh. Belajar malam
dengan murid-murid adalah hal yang hampir tidak pernah selama empat bulan aku
disini. Belajar malamku hanya dengan adik dirumah, Yuni kelas 2 SD. Itu saja
kalau Yuni tidak menghilang kerumah tetangga untuk pergi nonton. Itu sudah!
Selain memang jarak rumah yang cukup berjauhan. Alasan lain mengapa
murid-muridku tidak datang kerumah ketika malam hari adalah karena aku kalah
dengan tayangan televisi. Tayangan televisi
malam hari yang disuguhukan lebih menarik dibanding belajar bersama Ibu Anggun
dirumah. Namun kemudian aku kembali merenung. Apa iya ini karena tayangan
televisi, jarak rumah yang berjauhan atau ternyata karena aku, aku yang belum
bisa membuat murid-murid tertarik untuk datang belajar malam. Lagi-lagi aku
menyalahkan diriku.
Waktu berjalan begitu cepat,
kejutan pun ikut ambil bagian di dalamnya. Malamku yang sepi tidak lagi.
Sekarang sudah penuh isi.
Dimulai dari aku berniat
mengunjungi salah seorang murid kelas 1 yang aku tahu ia belum bisa menulis
sama sekali. Kejadian itu datang ketika aku sedang mengawas ujian tengah semester
di kelas I B. Namanya Laus, bocah mungil dengan pakaian seragam yang lusuh dan
kebesaran. Aku lihat waktu guru sedang membacakan soal dan murid-murid menulis
jawabannya di buku. Laus tidak menulis apapun! Hanya bulat-bulat, garis. Tidak
ada huruf a, b atau c dalam bukunya. Hatiku tersentak ada panggilan yang
menggebu. Sore itu juga aku harus datang ke rumah Laus, mengajaknya belajar
menulis. Rumah Laus di dusun Danombao, jarak kesana membutuhkan waktu tempuh 40
menit jalan kaki.
Sore itu pukul 16.20 aku
berangkat kerumah Laus. Sendiri. Tekadku sudah bulat. Laus harus bisa menulis!
Baru aku jalan 50 meter dari rumah, bertemulah dengan Faleri murid kelas 5. Ia
tanya aku mau kemana, ku bilang “Ibu mau
pi ke Danombao, mau ikut kho?” tanpa pikir panjang Faleri langsung bergegas
menghampiriku dan bilang “Iya ibu, saya
ikut”. Jadilah kami jalan bersama. Aku tidak lagi sendiri tetapi berdua
dengan Faleri. Senja pun akhirnya sudah menampakan diri, langit mulai gelap.
Pukul 18.00 aku kembali kerumah. Setelah sampai dirumah Faleri, sebelum masuk, Faleri
berkata, “Bu nanti mandi abis dan makan
saya kerumah ibu ya”. Akupun
membalas dengan senyum dan berkata “Iya
Faleri, ibu tunggu ya dirumah”.
Selesai mandi aku duduk diberanda
belakang rumah yang juga merupakan dapur dan kamar mandi. Berbincang santai
dengan bapak dan mamak sambil minum teh hangat buatan mamak. Posisi duduk-ku
meghadap ke halaman belakang, sehingga kalau ada orang yang datang aku mungkin
tidak akan tahu atau bahkan terlihat. Asyiknya kami ngobrol. Dari depan
terdengar langkah kaki dan bisik-bisik. Siapa mereka? Oh ternyata Faleri. Eh
tidak, tidak hanya seorang Faleri. Dibelakangnya ada beberapa lagi yang lain.
Mereka menyapaku, “malam Ibu Anggun”.
Ternyata gerombolan itu ada Cici, Lala kelas 1, Karin kelas 2 dan Jingga kelas
3. Mereka datang tidak dengan tangan kosong, tetapi membawa 1 buku tulis dan
ballpoint masing-masing. Mau belajar, katanya serentak.
Aah Tuhan kejutan yang luar biasa
yang Kau berikan untuk aku malam ini. Kau mengirimkan malaikat-malaikat mungil
mengisi malamku. Puji Gusti.
Mereka memintaku diajarkan
menulis, membaca, menghitung. Sesekali mereka minta menggambar dan bermain.
Bahkan aku suka mempercepat waktu belajar mereka untuk agar mereka bisa menyaksikan
film kartun dari laptopku. Kami belajar
di beranda belakang tetapi lebih sering aku mengajak mereka ke gereja. Tepat
disamping rumah. Selain untuk supaya tempatnya lebih luas. Disana sebenarnya
sudah ada perpustakaan desa. Ada lemari kayu yang berisi banyak buku dan
permainan. Yang mana mereka boleh menggunakan sesuka hati. Tentunya idak boleh
berantakan. Kembalikan ke tempat semula dengan rapi.
Pernah suatu malam. Hari Kamis.
Terdengar sayup suara mereka, sedang berjalan dan sambil bernyanyi. Sepertinya
mereka tidak tahu kalau aku sudah ada dirumah malam ini. Tujuan mereka memang
tidak kerumahku tetapi ke arah timur. Kebetulan sekali aku juga mau kesana,
kerumah Bapak Welem mengantar titipan mamak untuk Mira. Saat aku keluar pagar ,
kok jejak mereka hilang cepat sekali. Baru saja aku keluar pagar dan berjalan
10 langkah. Mereka mengagetkanku, tiba-tba keluar dari persembunyiannya dibalik
pohon. Ternyata betul tujuan kami sama,
mereka akan ke kios membeli obat untuk Bapaknya. Sedangkan rumah Pak welem
disamping kios. Di perjalanan mereka malah bertanya “Bu kotong belajar kho ini malam?” padahal aku ada agenda bertamu
kerumah Bapak Welem. Aku bilang dan minta maaf kalau tidak bisa belajar malam
ini. Mereka memang terlihat kecewa, akupun merasa bersalah. Tapi malahan mereka
bilang “kalau begitu habis antar bapak
pung obat, kotong jemput ibu Anggun ya, kotong tunggu ibu”. Ah manisnya
mereka.
Inilah malamku. Yang tidak lagi
sepi. Sampai hari ini mereka tidak pernah absen datang kerumah. Menemaniku. Bahkan
ketika aku sedang berada di kota kabupaten. Ternyata mereka juga tetap datang.
Begitu besoknya saat aku sudah ada dirumah. Mereka pasti berkata, “Ibu kemarin kami datang, tetapi ibu tidak
ada”.


Komentar
Posting Komentar