Pemalu bukan berarti tak Berani
Pertama aku menginjakkan kaki di
sekolah, SD Inpres Oeoko. Aku menyapa mereka, “Hallo, selamat pagi?” tetapi tanggapan yang datang jauh dari
ekspektasiku. Tidak ada balasan satu katapun, hanya diam memandangiku sebentar
lalu pergi menjauh. Dalam hati, bagaimana aku mampu menaklukan mereka? Berapa
lama? Akankah dalam kegiatan belajar
mereka juga akan seperti ini? Pertanyaan ini bertubi-tubi memenuhi pikiranku.
Ada rasa khawatir tentunya. Namun disaat yang bersamaan, ada pikiran positif
yang sekelibat terpintas, ‘mungkin saja mereka pemalu seperti ini karena mereka
terlalu senang kedatangan guru baru di sekolahnya’.
Aku menyebut mereka Mutiara
Selatan. Layaknya sebuah mutiara, sesuatu yang sangat berharga. Mereka memang
sangat berharga, murid-muridku yang selalu membuat tersenyum setiap hari, yang
mempercepat kaki ini ingin segera menuju sekolah dan bertemu dengan mereka.
Sesederhana sapaan, “Selamat pagi, Ibu” atau dari kejauhan mereka memanggil
“Ibu Anggun” lalu sama-sama kami berjalan. Bahagia terasanya. Walaupun dengan pancaran
wajah malu-malu. Tetapi aku tahu dalam diri mereka terdapat keberanian yang
melebihi apapun, bahkan keberanianku berada disini.
Ternyata benar terbukti, mereka
sesungguhnya anak-anak yang pemberani, hanya saja kesempatan yang tidak pernah
diberikan untuk mereka. Sebagai guru mata pelajaran, adalah kegembiraan buatku
karena dapat mengenal seluruh murid, dari kelas 1 sampai 6, tanpa terkecuali.
Dan tentunya mereka akan memperoleh kesempatan itu dengan cuma-cuma. Kesempatan
yang belum pernah mereka dapat dan rasakan sebelumnya.
Ketika aku mengajar dikelas,
betapa terlihat begitu pemalunya mereka. Apalagi kalau aku tanya, siapa namamu? Kadang mereka tidak mau
menjawab, kalaupun menjawab suaranya sangat pelan. Aku mulai dengan permainan,
tetapi juga masih terlihat malu-malu. Sampai pada saatnya aku masuk pada materi
pelajaran.
Kali ini materi yang kuajarkan
tentang perkenalan. Aku membuat kalimat perkenalan pada selembar kertas warna
yang kemudian kupotong-potong, sehingga kalimat tersebut terbagi menjadi
beberapa kata. Hello. What is your name?
My name is Anggun.. Aku memasang
sebagian kata tersebut di papan tulis dengan mengosongkan beberapa bagian kata;
______ is your _____? My name ___ Anggun.
Lalu aku meminta kepada mereka untuk melengkapi kata yang tepat pada bagian
yang belum diisi tersebut. Caranya, mereka memilih kata-kata yang sudah aku
taruh di meja secara acak, lalu mereka menempelnya di papan tulis. Begitu
dengan lantang aku bertanya “Siapa yang bisa
melengkapi kata-kata ini? Kejutanpun datang, serentak hampir seluruhnya
mengangkat tangan! Aku jadi bingung mana murid yang akan kupilih. Sampai-sampai
aku mengulangnya dengan mengatakan “Ibu
hitung 1 sampai 3 yang menunjuk tangannya paling cepat dia yang akan maju
kedepan” Satu, dua, tiga!
Alamak, jari malah menunjuk semua keatas, bahkan sampai berebut menyampaikan
keinginannya masing-masing “saya Bu, saya!” Aku mecoba cara
lain, “Duduk yang paling rapi dan tertib
dia yang akan maju” dengan cepat mereka juga menunjukkan sikap paling
tertib. Siapa sangka mereka kuanggap sebagai anak yang pemalu, sangat pemalu.
Nyatanya di dalam kelas ketika belajar mereka adalah anak-anak yang pemberani.
Aku menyadari bahwa sesungguhnya
ada keinginan, kemauan dan semangat yang selama ini mereka pendam. AKU BISA,
AKU INGIN JADI ANAK HEBAT, AKU TIDAK TAKUT, bersamaan ketika menunjuk tangan,
mereka juga berbicara dalam hatinya. Seperti ingin menunjukkan pada dunia kalau
mereka ADA.
Hanya saja selama ini kesempatan
itu tidak pernah mereka dapatkan. Mereka terjebak dengan tuntutan untuk selalu
mendengar tetapi tidak ada Kesempatan didengar. Mereka terjebak dengan buku
cetak yang hanya diperintahkan untuk mereka baca tetapi tidak diberi Kesempatan
bertanya. Mereka terjebak dengan ketakutan untuk menjawab, yang tidak memberi
mereka kesempatan untuk menjadi berani. Mereka terjebak dengan kebisuan karena
takut apabila banyak bertanya, akan di anggap sebagai “anak bodoh”. Senyum dan
tawa mereka hilang karena dianggap tidak menghormati.
Bukankah kesempatan itu tidak
terbatas? Selau ada dan dimana-mana, bukan? Apalagi mereka, dunia mereka,
anak-anak, seharusnya menawarkan sejuta kesempatan.
Berikan itu untuk mereka,
biarkan mereka meraihnya. Ya, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.


Komentar
Posting Komentar