Peduli ABK
Kepedulian
Masyarakat Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Anak
merupakan potensi yang sangat penting, generasi penerus masa depan bangsa,
penentu kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang akan menjadi pilar
utama pembangunan Nasional sehingga perlu ditingkatkan kualitasnya dan
mendapatkan perlindungan secara sungguh-sungguh dari semua elemen masyarakat.
Kebutuhan akan pendidikan baik formal maupun
informal menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Selain kegiatan yang
bersifat akademik, kegiatan non-akademik juga menjadi bagian yang tidak dapat
dipisahkan bagi kebutuhan anak. Anak yang menjadi pilar utama kemajuan bangsa,
perlu diperhatikan segala kebutuhannya.
Berbicara
tentang anak di Indonesia tidak ada habisnya, jumlah mereka yang sangat banyak,
yaitu sudah lebih dari sepertiga penduduk Indonesia, menimbulkan permasalahan
yang cukup kompleks terhadap kesejahteraannya. Bagaimana anak itu dapat
bertumbuh kembang dengan baik, memperoleh pendidikan yang layak dan hak-haknya
terpebuhi. Semua itu bukan hanya menjadi tugas dan tanggung jawab negara atau
orang tua, namun sekaligus menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai
masyarakat, baik praktisi maupun guru untuk memenuhi kesejahteraan mereka.
Karakteristik
anak / anak cacat berdasarkan sudut pandang psikologi bermacam-macam, salah
satunya adalah Anak Berkebutuhan Khusus. Dari begitu banyak jumlah anak yang
ada di seluruh penjuru tanah air, tidak sedikit diantaranya adalah Anak
Berkebutuhan Khusus. Dari 500 juta jiwa penyandang cacat, 2/3 berada dikawasan
asia pasifik yaitu termasuk Indonesia, mereka hidup dalam kondisi yang
memprihatinkan dan suasana kemiskinan, serta tertinggal dalam bidang
pendidikan. Menurut data yang valid dari 93 juta ABK usia 7-15 tahun hanya 9
persen yang mampu mendapatkan pelayanan yang layak. (Diknas, 2007)
Anak
Berkebutuhan Khusus adalah individu yang memiliki cara atau gaya belajar yang
berbeda, mereka cenderung memiliki kecerdasan (IQ) rata-rata bahkan sangat
mungkin di atas rata-rata, namun memiliki masalah dalam pemrosesan didalam
otaknya/disfungsi otak. Mereka adalah anak-anak yang memiliki kesulitan dalam
belajar yang dikenal dengan (1)ADD (Attention
Deficit Disorder), (2) ADHD (Attention
Deficit Hyperactive Disorder), (3) Disleksia, (4) Diskalkulia, (5) Disgrafia,
dan (6) Disfasia. Selain itu mereka juga adalah anak-anak tuna rungu, tuna
daksa, tuna wicara, tuna grahita dan gangguan perilaku (autis). Yang mana
jumlah mereka semakin bertambah dari tahun ke tahun.
ABK
(Anak Berkebutuhan Khusus) dapat terjadi kepada siapapun. Anak-anak yang
terlahir dengan berkebutuhan khusus, masing-masing mempunyai ciri-ciri mental,
fisik, sosial dan komunikasi yang berbeda dengan rata-rata anak lainnya. Mereka
perlu diberi kesempatan yang sama dengan anak yang terlahir normal. Anak berkebutuhan
khusus perlu dikenal dan diidentifikasi dari kelompok anak pada umumnya, karena
mereka memerlukan pelayanan yang bersifat khusus. Pelayanan tersebut dapat
berbentuk pertolongan medik, latihan therapeutik, maupun program pendidikan
khusus, yang bertujuan untuk membantu mereka mengurangi keterbatasannya dalam
hidup bermasyarakat.
Anak
adalah segala-galanya, maka tidak salah ketika orangtua melakukan apapun hal
yang dapat membuat anaknya pulih. Tidak mudah apalagi juga perlu biaya yang
banyak untuk usaha itu. Namun bagaimana dengan anak yang berada di daerah
bahkan didaerah terpencil, dengan keterbatasan biaya, akses, dipastikan ada
banyak Anak Berkebutuhan Khusus disan. Tidak ada yang dapat mereka lakukan
sebagai orang tua maupun masyarakat yang peduli sekalipun. Mereka hanya bisa
berharap semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan mujizatnya. Ini berlaku bagi
orang tua / masyarakat yang tahu tentang ABK. Lalu dengan orang tua yang tidak
tahu bahwa sebenarnya anak mereka ABK, maka dalam hal ini keterlibatan
pemerintah sebagai aparatur negara yang mempunyai tanggung jawab penuh terhadap
kesejahteraan anak sangat diharapkan khususnya bagi anak-anak yang berada jauh
didaerah. Setidaknya orang tua dan masyarakat bahkan guru yang ada mengetahui
kondisi mereka dan sebagai anak-anak mereka pun mendapatkan penanganan.
Memerangi
kasus Anak Berkebutuhan Khusus membutuhkan komitmen yang kuat dan kepedulian
dari berbagai pihak (selain pemerintah tentunya) yaitu untuk bersama membantu
keberadaan anak yang mengalami ketidakmampuan mental, fisik dan emosi yang
tergolong ABK. Menyadari pentingnya perlindungan dan hak seorang anak, maka
kesadaran yang tinggi saja tidak cukup untuk memberikan kesejahteraan
dan perlindungan kepada mereka. Diperlukan sebuah langkah yang kongkrit,
terkoordinasi, terencana, menyeluruh dan berkelanjutan. Bagi ABK apapun jenis
kecatatanya, mereka menghadapi persoalan yang sama yaitu bagaaimana ABK dapat
mengembangkan dan mendayaagunakan potensi yang ada secara optimal untuk
menjalani kehidupannya sebagai orang biasa.
ABK
memiliki kedudukan, hak-hak dan kewajiban serta kesempatan yang sama untuk
melalui hidupnya dimanapun mereka berada. Bukan hanya peran keluarga namun
sebagai masyarakat, sangatlah berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan
menumbuhkan sikap kemandirian. Peran masyarakat dalam kehidupan para ABK akan
mengantar mereka mampu merencanakan jati diri sebagai manusia lainnya, apalagi
masyarakat tidak lagi ragu-ragu menerima mereka apa adanya. Sedangkan dalam
keluarga sebagai lingkup terkecil memiliki peran yang sangat penting dalam
menumbuhkan kepercayaan ABK sebagai tempat untuk mengadu dan memberikan rasa
aman dan nyaman.
Beberapa
upaya masyarakat yang bisa diberikan pada ABK sebagai bentuk kepeduliannya
adalah anatara lain: 1) Memberikan pengetahuan kepada lingkungannya akan
pentingnya memperhatikan ABK terutama dalam bidang pendidikan, 2) Memberikan
sumbangan psikologis agar ABK dapat menghadapi berbagai tantangan yang terjadi
dalam masyarakat, 3) Ikut serta dalam berbagai aksi tentang ABK, baik melalui
program dan kegiatan, 4) Memberi bekal ketrampilan agar ABK mampu bekerja
sesuai dengan bidang yang diminatinya untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Berdasarkan
4 hal diatas hanya mampu dilakukan apabila kita yang merasa sehat dan normal
peduli pada upaya membantu menyelesaikan permasalahan dan kebutuhan Anak
Berkebutuhan Khusus (ABK).

Komentar
Posting Komentar