Aku menyebutnya "Malaikat Kecil"
Menjadi seorang pengajar sebetulnya tidak pernah menjadi cita-cita, bahkan cita-cita waktu kecil sekalipun. Dulu hanya pernah membayangi berada di lingkungan dengan kondisi anak-anak yang memiliki "keistimewaan", dan perannya bukan menjadi seorang pengajar/guru tet api sekedar menjadi pekerja sosial yang membantu dan merasakan berada ditengah-tengah mereka. Hanya itu.
Ternyata dunia ini terlalu mengejutkan. Betul, awalnya tercapai, ketika keinginan untuk hadir di tengah "keistimewaan" mereka terwujud dengan tawaran diri menjadi seorang relawan di sebuah sekolah dengan spesifikasi Anak Berkebutuhan Khusus. Pertanyaan besar buat saya waktu itu, apa itu Anak Berkebutuhan Khusus? siapa mereka? seperti apa? bahkan mendengar itu baru pertama kalinya. Kok bisa-bisanya, menawarkan diri di sebuah tempat baru, tanpa tahu apa-apa. Seperti terdampar di pulau terpencil tanpa membawa bekal apapun. Namun hati berkata lain, dengan gagahnya merasa tertantang.
Tidak lama kemudian tawaran itupun menjadi kenyataan. Asing ketika saya menginjakan kaki di sekolah itu. Ditanya pun saya tidak tahu. Hanya bermodal pertanyaan singkat kepada teman yang sedang menjalankan praktikum untuk skripsinya disana.
Saya hadir, di tempatkan sebagai relawan di kelas Intervensi Dini (kelas ini disebut dengan kelas prasekolah dan persiapan sekolah). Awal kehadiran, saya melakukan observasi. Sekedar supaya tahu dan kenal dengan "kondisi" anak-anak di kelas dan tentunya supaya tahu apa yang harus saya perbuat terhadap mereka. 1 minggu kehadiran membuat saya terkejut, dalam hati berkata sungguh betapa uniknya dunia ciptaanNya. Namun kejutan itu menjadi sebuah ucapan syukur yang tak terhingga, bersyukur karena diciptakan sempurna. Kalau saya tidak hadir di sekolah ini saya tidak akan pernah tahu sampai detik ini, bahwa ada anak-anak dengan kondisi seperti yang ada sekarang, bahwa ada kehidupan yang sangat unik yang di ciptakan Tuhan.
Seiring berjalannya waktu, ternyata kehadiran di sekolah membuat saya jatuh hati. Merasa terpanggil untuk tetap berada bersama mereka, untuk mengajar dan belajar tentang hidup dan kehidupan. Hanya ingin suatu saat nanti, melihat malaikat-malaikat kecilku tumbuh menjadi anak-anak yang tetap dengan tawa dan bahagiannya, kuat menjalani hidup untuk meraih sebuah cita, tanpa takut dan menyerah kalau mereka punya "keistimewaan". Ya, 'keistimewaan" yang menjadikan mereka panutan dan kebanggaan.

Komentar
Posting Komentar